Politik, Social Media, dan Pemuda

Politik

Apa yang terlintas? Kotor? Koruptor? Paradigma ini yang akhirnya membuat para pemuda  enggan untuk masuk di ranah politik, atau bahkan sedikit menyaksikan perpolitikan. Kenapa? Karena ya itu tadi, kotor dan erat dengan koruptor.

Padahal, makna dari politik itu sendiri bijaksana, sopan, beradab, kebijakan. Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).

Social Media

Pengguna Facebook di Indonesia menempati 3 besar di dunia, begitu pula dengan Twitter. Pasti sudah bosan mendegarnya. Era Social Media ini memungkinkan kita para pengguna nya untuk lebih sosial, mengeluarkan pendapat, bahkan menyampaikan keluhan. Perusahaan-perusahaan jadi salah satu pelaku yang akhirnya kelimpungan menjaga brand image dan services mereka di ranah sosial ini.

Dari social media ini pula akhirnya muncul banyak social movement. Tahun 2009 silam saya hanya tahu dan mengikuti ada Fresh Your Mind Forum di Jakarta. Tapi sekarang, sudah menjamur mulai dari Akademi Berbagi, Indonesia Mengajar, Indonesian Future Leaders, Youth Empowering, Indonesia Menyala, Nalacity, Langsat, Indonesia Berkebun, dan ratusan atau mungkin ribuan gerakan lainnya yang banyak di antaranya lahir melalui social media.

Pemuda

Indonesia di masa depan bergantung pada pemuda di masa kini. Sudah bosan mendengarnya bukan? Pertanyaannya, pemuda Indonesia seperti apa yang ada saat ini? Lebih lanjut, siapa saja pemuda yang mau turut andil dalam mengelola Indonesia di masa depan?

Politik, Social Media, dan Pemuda

Berawal dari social media, para pemuda yang gerah dengan kondisi sekitar lingkungan, tergerak membuat gerakan sosial, tanpa menunggu uluran tangan pemerintah. Tanpa menunggu aksi nyata pemerintah yang tidak tahu kapan terlaksana. Atau, mungkin tidak percaya dengan realisasi pemerintah sehingga langsung bergerak dengan mandiri.

Kita sama-sama melihat fenomena ini. Gerakan sosial di bidang pendidikan berjalan karena kita marah melihat perkembangan pendidikan di Indonesia versi pemerintah, kurikulum selalu berganti, ujian nasional yang selalu penuh dengan masalah, kertas ujian belum sampai hari H pelaksanaan ujian, berkas ujian kurang karena vendor tidak tepat waktu.

Kita menyaksikan fenomena ini. Ketika Jokowi melaju di DKI 1 karena sosoknya, karena track record yang dimilikinya. Ketika Jokowi mendapatkan elektabilitas tertinggi  untuk melaju ke RI 1, lagi-lagi karena masyarakat melihat sosoknya, tidak peduli partai politik di belakangnya. Bergeser sedikit ke Bandung, Ridwan Kamil berhasil melaju sebagai tokoh non-politik untuk membangun Bandung. Lagi-lagi, karena masyarakat telah melihat bagaimana track record beliau dalam membenahi Bandung.

Kita sudah lelah dengan iming-iming para calon pemimpin bangsa. Kita sudah berada di tahapan memilih pemimpin yang memang sudah terbukti dengan aksi nyata dan bukan karena janji. Ya, masyarakat Indonesia sudah lebih cerdas dalam memilih.

Be The Change You Wish to See

Pertanyaannya: Bagaimana caranya kita mau mengubah Indonesia kalau kita tidak berada di dunia politik itu sendiri, atau setidaknya mengikuti jalannya politik. Bagaimana kita bisa mengharapkan kebijakan yang kita inginkan kalau kita tidak memiliki suara di pemerintahan.

Mencoba mengutip Anies Baswedan,

“Orang-orang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tetapi karena orang-orang baik lainnya diam dan mendiamkan.”

Ini yang bisa jadi terjadi saat ini. Korupsi merajalela dan tata kelola pendidikan carut marut bisa jadi karena hanya sedikit orang dalam yang memperjuangkannya dan kalah dengan para orang jahat yang lainnya. Di satu sisi, kita, masyarakat dan pemuda yang berada di luar pemerintahan, hanya bisa mengutuki dan mengkritisi.

Padahal, seharusnya ketika kita bisa memiliki suara di level pemangku kebijakan, kita bisa turut bagian dalam dunia perpolitikan, kita bisa mengubah Indonesia seperti yang kita inginkan. Indonesia yang kita, masyarakat Indonesia, cita-citakan.

Think Globally, Act Locally

Kembali ke Depok. Saya merasakan letupan semangat dan keinginan teman-teman di Depok untuk bisa menjadikan kota ini lebih baik. Kita ingin bisa berkolaborasi dengan pemerintah seperti Solo dan Jakarta dibawah bimbingan Jokowi. Kita iri pada Bandung yang bisa melesat membangun kota nya dengan kreatifitas para komunitasnya dengan komando Ridwan Kamil.

Kita ingin membangun Taman Jomblo di Depok tanpa embel-embel banner foto. Kita ingin membuat creative campaign di sepanjang jalan margonda tanpa spanduk berisikan wajah narsis.  Kita juga ingin membantu program One Day No Rice namun dengan ilustrasi makanan dan kreatifitas design. Kita sangat ingin membantu menjadikan Depok sebagai Cyber City, tapi koq ya diskusi nya lama-lama sepi.

The End

Saatnya pemuda menguasai panggung politik. Saatnya kita memilih #orangbaik.

Kalaupun pada akhirnya kita harus bergerak tanpa uluran tangan pemerintah, marilah kita terus bergerak. Karena kita memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *