Ketika berbicara di ranah bisnis, maka jawabannya tentu kompetisi. Bagaimana bisa lebih unggul dibandingkan dengan kompetitor. Bagaimana kalau di ranah komunitas?
Topik ini muncul dari hasil diskusi malam ini (7 Juni 2012) bersama dengan beberapa komunitas digital di kota Depok, Pak @RobyMuhamad (Social Scientist), Pak @deddyrahman (katapedia.com), dan Pak Lindo (Sekolah Alam). Secara umum pertemuan ini membahas potensi Kota Depok dan bagaimana Depok ke depannya. Ada banyak topik yang didiskusikan, dengan topik utama, pesan apa yang akan dibangun sebagai identitas kota Depok.
Kembali ke pertanyaan pada judul tulisan ini, “Kolaborasi atau Kompetisi?”, saya tertarik untuk membahas bagaimana sinergi antar komunitas yang ada di kota Depok, dalam hal ini khususnya komunitas digital. Hingga saat ini sudah ada Depok Digital (@depokdigital), Depok Creative (@depokcreative), Depok Klik (depoklik.com), Depok Kita (depokita.com), Jajanan Depok (@jajanandepok), Ngorek ID (@ngorekID), dan Akber Depok (@akademiberbagi) yang secara aktif melakukan pertemuan rutin untuk membahas visi kota Depok untuk ke depannya. Sangat menarik ketika setiap komunitas ini bisa berkumpul dalam satu wadah, berkolaborasi, mencapai sebuah tujuan, dengan cara yang berbeda-beda.
Setiap komunitas memiliki “bisnis model” dan karakteristiknya masing-masing. Tentunya setiap komunitas pasti memiliki bidang ketertarikan yang berbeda, walaupun sejenis tapi tetap akan ada saja perbedaannya. Ya, apalagi yang bisa membentuk komunitas selain kesamaan interest? Hingga saat ini beberapa komunitas yang telah disebutkan sebelumnya seperti sudah memiliki ikatan emosional, pada akhirnya membentuk sebuah komunitas besar dengan satu kesamaan: Keinginan untuk membuat Depok lebih Maju. Dalam hal apa? Tentunya ini kembali ke hal positif yang di bawa oleh masing-masing komunitas.
Kalau pada ranah bisnis, kompetisi bisa menjadi dorongan kuat untuk lebih memaksimalkan kinerja perusahaan. Kalau di ranah komunitas? Justru iklim kompetisi diturunkan dan digantikan dengan atmosfer kolaborasi. Dengan adanya expertise/keahlian pada setiap masing-masing komunitas, setiap komunitas bisa saling mendukung satu sama lainnya. Bergabung, berkolaborasi, dan pada akhirnya membuka satu pintu baru yang lebih besar untuk meraih pasar yang lebih luas lagi.
Hingga saat ini, aktivitas kolaborasi sudah dilakukan selama kurang lebih 6 bulan. Bagaimana hasil ke depannya? Let’s hope for the best one!
Tulisan ini merupakan sebuah catatan ringan perjalanan sekelompok individu yang ingin kota kediamannya menjadi kota yang lebih baik. Yap, karena sesungguhnya perubahan bisa dimulai dari lingkungan yang kecil, tanpa harus menunggu uluran tangan dari pemerintah.

